ENCIKEFFENDYNEWS.com

TAMSIL SEHELAI DAUN ENCIKEFFENDYNEWS.com Pernahkah kita menyempatkan diri menghitung berapa helai daun yang jatuh dari pohon di halaman rumah kita? Ini mungkin terkesan sepele, sama sepelenya arti sehelai daun dalam pandangan kita. Apa makna bertanya seperti itu, dan apa urgensi daun-daun pepohonan? Di situlah masalahnya. Kecenderungan kita umumnya mengabaikan hal-hal yang kecil. Pohon rambutan di halaman rumah, misalnya, yang selalu kita perhatikan adalah buahnya, sudah masak atau belum, dan sebagainya. Sedangkan berapa helai daun yang jatuh, kita tentu tak pernah menghitungnya?

Namun, tidak demikian dengan Allah SWT. Dalam surat Al-An’aam 59 dikatakan, Dia mengetahui setiap helai daun yang jatuh (wama tasquthu min waraqatin). Bayangkan, setiap helai daun. Apa makna dari perbuatan Tuhan ini? Buat apa Tuhan menghitungi daun-daun? Apa Tuhan tidak ada kerjaan sehingga sempat-sempat-Nya melakukan sesuatu yang menurut pandangan kita sangat sepele itu? Makna ayat atau tamsil ini bukanlah bahwa Tuhan kurang kerjaan, tetapi bahwa apa-apa yang kita melalaikannya, Dia justru memperhatikannya. Hal-hal yang dalam pandangan kita kecil, sepele, bagi Dia tetap memiliki nilai dan arti.

Pesan pentingnya adalah, jika yang kita anggap sepele saja Dia perhatikan, apatah lagi hal-hal yang kita anggap penting. Jika yang kecil-kecil saja tidak pernah lepas dari penglihatan Dia, apalagi yang besar-besar. Jika sesuatu yang seremeh helai daun saja Dia perhatikan, apalagi manusia dan semua perbuatannya, karena manusia tentu saja jauh lebih penting daripada sekadar helai daun. Dalam pandangan Allah, semua adalah penting, semua bermakna. Seluruh benda hidup dan benda mati menjadi urusan bagi Dia, tak ada kecuali barang satu dan sedikit pun. Begitu pula atas segala perbuatan manusia di dunia ini, baik amal yang kecil maupun yang besar, yang sedikit maupun yang banyak. Dalam surat Az-Zalzalah 7-8 dikatakan, setiap perbuatan manusia, entah yang baik atau buruk, meski sebiji zarrah (mitsqal dzarratin) akan tetap dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat.

Orang-orang saleh di masa lalu mengerti benar ajaran ini, dan mereka mengimplementasikannya dalam setiap gerak kehidupan. Sheikh Idris –ayahanda Imam Syafi’i– misalnya, berjalan merunut sepanjang aliran sungai, hanya ingin mencari pemilik dari sebuah delima yang terbawa arus sungai dan ia menyantapnya, untuk minta kehalalan. Sayang sekali, makna ataupun ajaran terdalam yang tersirat dari surat Al-An’aam 59 itu, yakni tentang kontrol moral, justru tercampakkan jauh-jauh dari arena kehidupan kita. Budaya korupsi yang begitu mengakar dalam diri bangsa, sebagaimana ekspresinya sedemikian menjadi-jadi belakangan ini, pangkalnya adalah lemahnya kontrol moral kita sebagai manusia beriman (Mukmin) dalam hal pengelolaan harta milik negara (rakyat). Sehingga, terjadilah tindakan-tindakan memperkaya diri sendiri secara melawan hukum dan merugikan negara. Wallahu a’lam.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

4.            Mu’aaqabah.

                Dalam ajaran Islam, orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah punya salah dan dosa, justru orang yang baik itu adalah orang yang mempunyai kesalahan tetapi dia mau mengakuinya dan kemudian dia bertaubat dengan tekad dan janji tidak akan mengulangi perbuatan yang salah tersebut. Di dalam sebuah hadits mutawatir dijelaskan:”Setiap anak cucu Adam pasti pernah berbuat salah (dosa), dan sebaik-baik orang yang bersalah (berdosa) itu adalah orang yang bertaubat”.(HR.Muttafaq ‘alaih).

Dan tidak cukup hanya dengan bertaubat saja, malah orang tersebut berusaha menghapus kesalahannya dengan melakukan amal-amal yang utama meskipun terasa berat. Misalnya dengan menginfaqkan sebagian hartanya disebabkan meninggalkan shalat berjama’ah. Inilah yang disebut dengan mu’aqabah, yakni memberi sanksi terhadap dirinya  sendiri karena melakukan kelalaian dan untuk mendapatkan ampunan serta redha Allah SWT.

5.            Mujaahadah.

               Mujaahadah yaitu niat yang tulus dan tekad yang kuat dalam menjalani hidup, optimal dalam bekerja dan berjuang untuk dunianya dan untuk akhiratnya. Di era globalisasi ini memang dituntut agar manusia mampu mengembangkan potensi dirinya disertai etos kerja yang tinggi, agar dia tetap eksis dalam percaturan hidup yang penuh tantangan ini,  namun demikian  tetap pula konsisten pada ajaran agamanya.

Kita memang diperintahkan untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk kehidupan akhirat, namun kita diingatkan agar tidak melupakan urusan kita di dunia ini, karena dunia adalah jembatan untuk kita sampai ke akhirat.  Allah SWT menegaskan masalah ini dengan firman-Nya: “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi…..”. (Al-Qashash : 77).

     Kita lihat dari ayat di atas betapa Islam adalah agama yang dinamis, agama yang rasional, yang selalu menganjurkan umatnya untuk selalu terbuka,  maju, dan berhasil untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan lahir dan batin, dunia dan akhirat.

            Demikianlah cara kita dalam menata hidup bernuansa Islam, atau boleh juga kita sebuat manajemen hidup Islami yang diperintahkan Allah SWT untuk kita jalani, agar tercapai hasanah fiddun-ya dan hasanah fil aakhirah. Mudah-mudahan dengan latihan puasa yang sedang kita jalani ini, Allah SWT memberikan kemudahan dan kekuatan kepada kita untuk dapat menerapkannya dalam hidup dan kehidupan kita sehari-hari terutama dalam  menyongsong hari-hari mendatang yang lebih baik dan bermanfa’at, dan semoga  kita dimasukkan oleh Allah Rabbul ‘Aalamiin ke dalam golongan hamba-hamba-Nya shaleh dan  pandai bersyukur. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.

ENCIKEFFENDYNEWS.com         –          Berbicara tentang MTQ ( Musabaqah Tilawatil Qur’an ) sudah tidak asing lagi bagi kita dan seluruh provinsi di tanah air ini ikut berlomba dalam menyemarakkannya. Tahun ini MTQ Nasional di selenggarakan di Kalimantan Selatan dan seluruh provinsi sudah mempersiapkan diri dengan menyelenggarakan MTQ tingkat provinsi di masing-masing daerah.

Di provinsi Kaltim dah dimulai pada tanggal 21 – 29 Mei 2022 dan semoga MTQ ini melahirkan generasi Qur’ani untuk mewujudkan negeri “ BALDATUN THAYYIBATUN WARABBUN GHAFUR” Insya Allah, aamiin. (EA)*