ENCIKEFFENDYNEWS.com

Muraaqabah.

Yaitu selalu merasa diawasi dan disertai oleh Allah di mana saja berada. Ini akan mendorong seseorang untuk senantiasa berlaku jujur baik kepada dirinya atau pun orang lain.  Senantiasa  akan berbuat  kebajikan serta menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT baik di tempat yang ramai atau sepi, di tempat yang terang atau tersembunyi. Baginya apapun yang diperbuat oleh anggota tubuhnya, yang diucapkannya oleh mulutnya, bahkan yang tersirat di dalam hatinya, maka tiada tempat yang luput dari pengetahuan, penglihatan dan pengawasan Allah SWT. Dan ini sesuai dengan firman Allah yang berbunyi:”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”.(QS.Al-Qaf : 18)

3.            Muhaasabah.

               Muhasabah yakni instrospeksi diri, menyadari bahwa hidup di dunia ini adalah sangat singkat dan memiliki keterbatasan. Karena itu manusia harus punya kendali dan jangan sampai lupa diri, lalu menganggap dirinya yang paling pintar dan paling hebat, sehingga meremehkan serta menganggap orang lain itu enteng, kecil dan bodoh. Sikap ini hanya akan merugikan diri sendiri dan akan berakhir dengan penyesalan. Perintah untuk instrospeksi diri itu tersirat dari sabda Rasulullah saw yang berbunyi: Barang siapa yang hari ini sama seperti hari kemarin maka ia merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia beruntung. Barang siapa yang hari ini lebih jelek dari hari kemarin maka ia terlaknat”.(HR.Baihaqi)

               Lebih tegas lagi perintah untuk selalu instrospeksi diri dinyatakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa (orang) memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnyaAllah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS.Al-Hasyr : 18)

     Ayat di atas dengan jelas memerintahkan agar orang-orang yang beriman mengambil langkah antisipatif terhadap segala kemungkinan yang bakal terjadi di hari mendatang, baik untuk urusan dunianya dimana dia hidup dan berkarya, maupun urusan akhirat dimana semua yang hidup harus mempertanggung- jawabkan misi dan tugas yang diembannya selama di dunia. Dari hasil muhasabahnya, maka dia akan mempersiapkan langkah  yang tepat untuk menghadapinya. Langkah yang salah tidak akan dilakukan lagi dan diperbaiki, sedang yang sudah benar akan terus ditingkatkan.

bersambung,……

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Hasanah fiddunya wal aakhirah hanya akan dapat dicapai oleh setiap mukmin dan muslim yang menjalani hidup dan kehidupannya sesuai dengan tuntunan dan ajaran Islam. Puasa sebagai salah satu dari rukun Islam yang lima adalah ibadah yang melatih seorang mukmin untuk mencapai sosok mukmin yang ideal, yakni mukmin yang muttaqiin, suatu tingkat atau derajat hamba Allah  yang layak untuk mendapatkan hasanah fiddunya wal aakhirah tersebut. Untuk itulah kita sebagai orang mukmin harus berusaha untuk menata jalan hidup dan kehidupan kita sesuai dengan aturan dan tuntunan Islam, dan untuk membahas hal ini maka judul hikmah Ramadhan kita kali ini adalah “Menata Hidup Bernuansa Islam”.

 Bagaimana kita menata hidup bernuansa Islam? Abdullah Nashih ‘Ulwan dalam bukunya “Ruhaniatut da’iyah” menjelaskan bahwa kita harus menyadari, mengisi, dan menghiasi kehidupan ini dengan memahami dan mengamalkan lima hal yaitu, mu’aahadah, muraaqabah, muhaasabah, mu’aaqabah dan mujaahadah. Secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.            Mu’aahadah.

               Mengingat “ahdullah”, yakni perjanjian dengan Allah di alam arwah. Bahwa  kita  telah berjanji, mengakui dan menyaksikan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Ikrar perjanjian ini dinyatakan oleh Allah SWT di dalam firman-Nya yang berbunyi: ”Dan ingatlah ketika Tuahnmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab:”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS.Al-A’raaf:172)

Kontrak tauhid ini dipertegas dengan ikrar bahwa kita hanya akan  menyembah dan memohon pertolongan  kepada-Nya. Penyaksian ini senantiasa kita ulang-ulang minimal 17 kali dalam sehari semalam dalam shalat wajib  lima waktu. “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin”, ikrar ini memiliki muatan aqidah, ibadah dan akhlaq.

Bermuatan aqidah, karena ikrar itu menyatakan tiada tuhan lain yang disembah dan dimintai pertolongan selain Allah. Ini membebaskan manusia dari penyembahan dan  cinta yang berlebih-lebihan yang menjurus pemujaan kepada makhluq, kepada diri sendiri dan  materi seperti yang disindir oleh Allah dalam firman-Ny:”Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya …..?” (QS.Al-Jaatsiyah : 23)

               Selanjutnya ikrar itu bermuatan ibadah, karena lafazh itu sendiri menunjukkan manusia beribadah dan beristi’anah hanya kepada Allah, dan bermuatan akhlaq karena di dalam ikrar tersebut mendahulukan kewajiban (iyyaaka na’budu) daripada haknya (wa iyyaaka nasta’iin).

bersambung,……..

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang ke 114 pada tanggal 20 Mei 2022, dengan ini disampaikan bahwa tema peringatan Harkitnas tahun ini adalah “Ayo Bangkit Bersama”. Tema ini dipilih agar Harkitnas ini dapat menjadi momentum bagi kita sebagai bangsa yang besar untuk bersama-sama mengobarkan semangat bangkit dari pandemi Covid-19 yang telah lebih dari 2 tahun menyerang dan turut berefek di segala sendi kehidupan. 

Semoga dengan Kebangkitan Nasional tahun ini memberikan sebuah motivasi tersendiri dalam sikap kita sebagai bangsa yang besar dan bermartabat insya Allah.