ENCIKEFFENDYNEWS.com

Demikianlah, meskipun wanita itu sadar bahwa pengakuan bahwa ia telah berzina akan menyeretnya kepada hukuman yang berat, namun wanita itu tetap menghadapinya dengan ikhlas dan tabah. Ia menginsyafi dan sangat memahami, bahwa penderitaan dalam menjalani hukuman di dunia ini akan membebaskan dirinya dari azab Allah di akhirat kelak. Wanita itu telah bertekad yang bulat untuk melakukan taubat nasuha, dan harfapannya untuk mendapatkan rahmat Allah tidak sia-sia. Kekuatan jiwanya untuk mengakui dosa dan menerima hukum syari’at, mengantarkannya mendapatkan surga Allah SWT.

Begitulah syari’at Islam, bahwa di balik kekerasan hukuman yang telah ditetapkan, terdapat rahmat dan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang melaksanakannya dengan penuh konsekuen. Memang tidak ada yang kekal dan abadi di dunia ini, suatu waktu kita juga harus berpisah dengan apapun yang dicintai di kehidupan yang fana ini. Kita pun tidak akan luput dari segala dosa dan kesalahan, maka sebelum terlambat segeralah sadar dan bertaubat sekarang juga, jangan ditunda-tunda lagi, karena kita tidak mengetahui kapan ajal akan datang menjemput.

Ajal akan datang tanpa pernah memberi tahu dan minta permisi kepada kita, dia datang secara tidak terduga-duga. Mudah-mudahan seluruh ibadah kita mampu meningkatkan  derajat kita untuk masuk ke dalam golongan orang-orang yang bertaqwa, yang dosanya telah mendapat pengampunan dari Allah SWT.  Amin ya Allah ya Mujiibassaaiiliin.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Sebagai ilustrasi dari luasnya ampunan Allah kita kemukakan sebuah kisah. Bahwa ketika Rasulullah saw sedang berdialog dengan para sahabat, tiba-tiba datanglah menghadap beliau seorang ibu muda yang langsung berkata:”Ya Rasulullah, sesungguhnya aku sedang mengandung janin akibat berzina. Karena itu jalankan hukum rajam kepadaku”. Rasulullah saw diam, tidak menyahut, dan perempuan muda itu mengulangi lagi kata-katanya itu, tetapi untuk kedua kalinya Rasulullah juga tetap diam. Akhirnya setelah untuk yang ketiga kalinya perempuan tersebut menyampaikannya, maka beliau pun menjawab dengan lembut:”Pulanglah engkau wahai wanita muda, semoga rahmat Allah bersamamu”. Maka pulanglah perempuan yhang mengaku telah berzina tersebut ke kampungnya.

Sesungguhnya Rasulullah saw sadar benar, bahwa hukuman bagi penzina yang telah terikat oleh perkawinan adalah dirajam sampai mati, akan tetapi beliau menyuruh wanita itu pulang karena di rahimnya ada janin yang tidak berdosa. Kalau si wanita dirajam, maka akan mati pulalah janin tersebut.

Beberapa bulan kemudian perempuan muda itu datang lagi kepada Rasulullah seraya berkata:”Ya Rasulullah, sekarang saya telah melahirkan, maka rajamlah saya!”. Kali ini Nabi saw tidak juga ememenuhi permintaan perempuan tersebut. Beliau menyuruh perempuan itu pulang dengan pesan agar ia menyusui bayinya dan memeliharanya secukupnya. Sebagai manusia pilihan Allah, Nabi saw dianugerahkan kecerdasan luar biasa oleh Allah SWT. Jauh sebelum sains dan teknologi membuktikan bahwa ASI adalah makanan terbaik bagi bayi, maka Rasulullah saw telah menyampaikan dan melakukannya. Karena itu beliau menyuruh wanita itu pulang agar ia berkesempatan menyusui anaknya.

Dua tahun berselang ketika Rasululallah saw sedang berbincang-bincang dengan para sahabat, tiba-tiba untuk ketiga kalinya wanita muda itu datang, dan berkata:”Ya Rasulullah, sekarang anak saya telah lepas dari susuan, maka rajamlah saya!”. Akhirnya Nabi saw memerintahkan para sahabat mempersiapkan lobang untuk rajam, dan kemudian wanita itu dikubur setengah badannya dalam lubang tersebut, dan setiap orang yang lewat merajamnya dengan batu.

Seorang sahabat dengan kemarahan yang luar biasa mencaci maki wanita itu sambil melemparinya dengan batu. Melihat hal itu serta-merta Rasulullah saw menegurnya dan berkata:”Ketahuilah sahabatku, bahwa saesungguhnya Allahtelah mengampuni dosa wanita itu dan menyediakan untuknya surga”., mendengar perkataan Rasulullah saw tersebut sadarlah para sahabat, bahwa Allah telah menerima taubat wanita itu, dan melimpahkannya dengan karunia yang besar,yakni surga.

bersambung,….

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Kita manusia biasa, bukan Malaikat dan bukan Rasul, karena itu tidak akan pernah sunyi dari berbuat salah dan khilaf. Karena itulah kita harus senantiasa beristighfar memohonkan ampunan Allah SWT. Rasulullah saw sendiri mengakui bahwa beliau setiap hari bertaubat 100 kali, padahal beliau telah dijamin masuk surga, sebagaimana sabda beliau:”Yaa ayyuhannaasu tuubuu ilallaahi wastaghfiruuhu fa-inniy atuubu fi-lyaumi miata marrotin”, artinya:”Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mintalah ampun kepada-Nya. Maka sesungguhnya aku bertaubat sehari seratus kali”. (HR.Muslim)

Tentunya taubat yang dikehendaki di sini adalah taubat sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…”. (QS.At-Tahrim: 8)

Malah Allah SWT memberikan dorongan dengan menyatakan kecintaan-Nya kepada orang yang mau bertaubat dan mensucikan dirinya melalui karena Allah itu Maha Pengampun, sebagaimana firman-Nya: “…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS.Al-Baqarah: 222)

Taubat nasuha adalah melepaskan diri dari maksiat atau meninggalkannya, menyesali perbuatan tersebut dan bertekad yang kuat untuk meninggalkan perbuatan itu dan tidak akan mengulanginya lagi. Taubat ini adalah yang berhubungan langsung dengan hak Allah. Sedangkan untuk pelanggaran atau maksiat yang ada hubungannya dengan manusia, maka sedapat meungkin meminta kema’afan kepada orang yang bersangkutan, serta mendo’akan agar dia juga diampuni oleh Allah SWT.

Taubat nasuha akan membuat kita jauh dari segala dosa, karena dilakukan dengan penuh keikhlasan tanpa ada keraguan sedikitpun, dan ini akan memotivasi diri kita untuk senantiasa mengingat Allah dan menjaga diri dari melakukan hal-hal yang dilarang-Nya. Dengan taubat yang demikian insya Allah hasanah fiddun-ya wal aakhirah akan tercapai sebagaimana yang dilukiskan dalam ayat 135-136 surat Ali Imran yang disalinkan di awal uraian ini.